Koordinator kegiatan, Zaenudin, mengatakan terapi energi masih tergolong belum familiar di tengah masyarakat Kota Cilegon. Salah satu faktornya, kata dia, karena belum banyak orang yang mempelajari sekaligus mempraktikkan metode tersebut. “Masyarakat Cilegon masih banyak yang belum familiar dengan terapi energi ini. Memang masih sedikit yang mempelajari dan mempraktikkannya. Karena itu, melalui kegiatan baksos seperti ini kami ingin memperkenalkan sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal metode terapi energi,” ujar Zaenudin.
Menurut Zaenudin, terapi energi yang dipraktikkan dalam kegiatan tersebut tidak menggunakan peralatan medis tertentu. Ia juga menegaskan bahwa para terapis berupaya menjalankan praktik terapi sesuai dengan keyakinan dan prinsip syariat yang mereka pegang.“Terapi energi ini relatif aman karena tidak menggunakan alat. Dari sisi syariat, kami tidak menggunakan bantuan jin, khadam, atau sejenisnya. Kami menggunakan energi yang Allah titipkan pada diri manusia,” katanya.
Warga Mengaku Rasakan Perubahan
Antusiasme warga terlihat dari kehadiran belasan penerima manfaat yang mengikuti sesi terapi. Salah seorang penerima manfaat, Septiani, mengaku merasakan perubahan setelah mendapatkan terapi. Ia berharap kegiatan sosial serupa dapat dilakukan secara lebih luas dan menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
“Alhamdulillah, badan agak enteng setelah diterapi. Pikiran juga agak tenang. Harapannya ke depan semoga bisa ada baksos-baksos serupa di tiap-tiap daerah atau kota,” ujar Septiani.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada para terapis yang telah memberikan layanan kepada masyarakat.“Terima kasih kepada para terapis. Semoga panjang umur dan berkah selalu,” tambahnya.
Tak Sekadar Baksos, Terapis Juga Murojaah
Selain memberikan layanan kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan para terapis Kahate untuk mempererat silaturahmi dan melakukan murojaah antar terapis. Murojaah dilakukan sebagai bagian dari upaya mengulang kembali materi dan teknik yang telah dipelajari, sekaligus menjadi ruang bagi para terapis untuk saling berbagi pengalaman dalam praktik terapi.
Zaenudin mengatakan kegiatan sosial dan murojaah tersebut diharapkan dapat berjalan berkesinambungan. “Baksos bukan hanya tentang memberikan layanan kepada masyarakat. Ini juga menjadi momentum bagi para terapis untuk bersilaturahmi, saling belajar, mengasah kemampuan, dan memantapkan kembali keilmuan yang sudah dipelajari,” ujarnya.
Siapkan Baksos Berikutnya
Kahate Cilegon berencana kembali menggelar kegiatan baksos terapi pada Oktober 2026. Sejumlah lokasi yang telah dikonfirmasi antara lain Perum BCK, Cibeber, dan Perum Puri Krakatau Hijau, Gerogol. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi agenda sosial berkelanjutan sekaligus memperluas akses masyarakat untuk mengenal berbagai pendekatan terapi yang dipraktikkan oleh para terapis Kahate. Dengan semangat berbagi dan silaturahmi, Kahate Cilegon berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan sosial yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.





Semoga bermanfaat
Semoga bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya